Minggu, 29 Maret 2015

Tentang Kita

Suatu sore di bulan November tahun 2011, tiga orang mahasiswa duduk dalam sebuah tenda bilik di taman belakang kampus. 

Yang diperbincangkan adalah soal pencalonan menjadi ketua badan eksekutif mahasiswa di sebuah fakultas terkemuka. 

Seiring perjalanan diskusi, dialektika soal mahasiswa dan tugasnya, akhirnya didapati kesimpulan bahwa apalah kebanggaan menjadi seorang ketua BEM bila hanya memenuhi CV dan tidak ada pengaruh bagi masyarakat luas. 


Disadari bahwasannya dengan kekuasaan, pengabdian dan pemberdayaan bisa saja dilakukan lebih besar atas dasar legitimasi, namun kesadaran atas legitimasi yang terbatas akan membuat batasan atas pengabdian dan pemberdayaan. 

Nyatanya, bukan soal kekuasaan dan legitimasi yang mereka cari, bukan.  
Pengabdian nyata sebagai seorang mahasiswa, tanggungjawab atas subsidi biaya kuliah dari masyarakat. 

Mengabdi, ibarat mahasiswa adalah seorang hamba dan rakyat adalah tuan. Memang, memanglah begitu. Namun mereka berpikir lebih dalam. Apa yang akan mereka lakukan adalah upaya menjadi hamba TuhanNya, memanusiakan manusia, berbagi dengan sesama, menjadi khalifah dan manusia yang bermanfaat. 

Pencarian makna akan hamba dan khalifah, membawa prinsip teguh pada mereka yakni, kebermanfaatan. Tidaklah hidup seorang manusia yang tidak bermanfaat untuk dirinya sendiri dan untuk sesamanya. Sebuah renungan sore yang mengubah cara pandang dan langkah ketiganya. 

Pertemuan berikutnya, masih di lokus yang sama, niat kebermanfaatan diejawantahkan dalam sebuah aksi. Mereka sepakat bahwa wacana harus seimbang dengan tindakan. Aksi yang direncanakan adalah sebuah rasa tanggungjawab, rasa terimakasih dan rasa cinta kepada tanah yang mereka injak, tanah yang mereka diami sebagai tempat menimba ilmu, Jatinangor. 

Sebuah kecamatan kecil yang menyimpan banyak problematika dan dinamisasi soal kehidupan. Keberadaan kampus disana ibarat menara gading yang tidak menyentuh atau bahkan mengangkat derajat masyarakatnya kecuali menjadi pekerja, bukan menjadi tuan. 

Langkah pertama adalah assessment persoalan di Jatinangor, hanya dua dari tiga yang melakukannya. Hasilnya mengejutkan.. Betapa banyak dan kompleks persoalan yang ada. Ketiganya menyadari tidak semua persoalan dapt mereka upayakan solusinya. Hal yang terlintas dalam benak adalah membantu sebisa apa yang mereka bisa, pendidikan. 

Tibalah saat keputusan diambil, 1 SD, 2 SMP dan 1 yayasan, menjadi fokus aksi pertama di Jatinangor. Tiga mahasiswa dengan ekspektasi kebermanfaatan yang tinggi tentulah kurang efektif. Ketiganya mencoba mengajak banyak teman dekat untuk ikut bergabung, sahabat, adik dan senior, terhimpun dalam aksi ini. 

Setahun, dua tahun, aksi yang dilakukan tidak selamanya berjalan mulus. Tuntutan akademis, dunia kerja, membuat jarak kebersamaan. Belum lagi soal dinamika hubungan sosial. Bertemunya banyak kepala, banyak ide dan keinginan, membuat proses deliberasi menjadi rumit. 

Namun semangat kebermanfaatan harus tetap dilanjutkan. Meski tertatih dalam kevakuman dan stagnansi kegiatan. Semangat tetap menyala. Buktinya adalah ekspansi semangat menyambar ke wilayah-wilayah mahasiswa lintas kampus dan lintas daerah hingga Garut dan Cianjur.

Beragam aktivitas dan kegiatan coba diupayakan atas nama mencari solusi persoalan dunia pendidikan, sosial, lingkungan dan budaya. Lagi-lagi, semua dengan prinsip kebermanfaatan. 

Kebersamaan yang dibangun pun dengan prinsip kekeluargaan dan kesukarelaan. Tidak ada kekangan, tidak ada ikatan hukum tertulis, begitu loose, membebaskan setiap individu untuk berkarya dan memilih jalan kebermanfaatannya. 
Tiga tahun, dengan prinsip yang sama, banyak wajah silih berganti disini. Banyak ide dan gagasan. Banyak imaji soal kemapanan. Semuanya bersemangat. Semuanya antusias. 

Pada akhirnya, ini bukan soal berapa lama dan seberapa jauh gagasan ini berlanjut dan berkembang. Tapi ini adalah soal semangat kebermanfaatan yang harus selalu ditularkan disetiap generasi. 

Semangat gotong royong dalam duka dan suka, saat lapang maupun sempit. Semangat soal merayakan hidup dengan berbagi pada sesama. Semangat menjadi khalifah di bumi yang telah Tuhan anugerahkan untuk kita. 

Waktu berjalan dan semuanya berkembang. Atas nama kebaikan dan kebermanfaatan..
Semoga selalu menyala lilin-lilin kecil yang tidak terlihat oleh kebanyakan. Setidaknya sedikit pedaran cahaya memberikan arti kehadiran dalam kehidupan. 

Semakin banyak lilin yang menyala, semakin terang dunia yang gelap, maka harapan atas masa depan yang lebih baik akan semakin benderang. Masalah bangsa yang rumit bisa mulai diselesaikan dengan solusi sederhana yang dilakukan bersama.


Salam untuk para pencari makna,
Semangat menebar manfaat, 
Semoga bahagia dunia akhirat.. 


ttd

Isman, Helmi, Sita untuk Kita Indonesia
untuk sahabat : Hani, Bambang, Satrio, Panji dan Fahmi

0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Gerakan pemuda bangsa yang peduli dan solutif untuk menciptakan perubahan positif terhadap isu-isu sosial