Selasa, 05 Januari 2016

Kontak Kita

Hai Sahabat!

Kamu bisa menghubungi Kita melalui :

  • Email       : Kita1indonesia@gmail.com
  • Line@      : @KitaIndonesia
  • Twitter     : @KIta1ndonesia
  • FB            : Kita Indonesia
  • Instagram : Kita1ndonesia

Minggu, 29 Maret 2015

Berbagi di Safari Desa Episode Desa Bojong

Berbagi di Safari Desa Episode Desa Bojong
Akhir Oktober lalu, Sahabat KITA kembali berbagi dalam program kegiatan catur wulannya yaitu Safari Desa. Jika pada safdes (Safari Desa) sebelumnya Sahabat KITA bertandang ke Naringgul, Cianjur Selatan, maka Safdes kedua giliran selatannya kota dodol, Desa Bojong, Pameungpeuk-Garut yang menjadi petualangan bersafari selanjutnya. Tak ingin sampai tengah malam di Desa Bojong, SaKI (Sahabat KITA) pun mempersiapkan segala keperluan beberapa hari sebelumnya. Tanggal 25 Oktober tepat pukul 15.00 waktu Cipadung, rombongan KITA Indonesia berangkat. Kali ini, antusias SaKI dalam kegiatan Safdes Edisi Desa Bojong sangat tinggi. Tiga mobil dan tiga motor pun mengantarkan 26 SaKI tak lupa dengan 800 paket alat tulis, baju layak pakai dan beberapa bantuan lainnya.
Perjalanan Menuju Desa Bojong
Perjalanan dipimpin oleh peta berjalan KITA, siapa lagi kalo bukan Ardi. Kali ini Ardi tidak mengemudikan mobil karna sudah ada Dimas, Budi dan Reza yang menjadi driver-driver tangguh sejagat raya. Bersama Ebi dan Kino, Ardi memimpin perjalanan dengan motornya. Kelihaian Ardi, Ebi dan Kino mengendai sepeda motor mengantarkan mereka sampai pertama kali di pemberhentian pertama di Garut. Sesaat sebelum adzan magrib, enam anak manusia (Ardi, Jaka, Kino, Anisyah, Ebi dan Ade) yang mencoba perjalanan ke Pameungpeuk dengan motor ini mereganggkan otot-ototnya dan mengisi cadangan makanan dalam tubuh mereka. Lama tak terlihat rombongan mobil lewat, salah satu dari anggota genk motor menghububngi SaKI yang masuk dalam daftar rombongan mobil. Bagai disambar petir tengah hari ketika mendapat kabar rombongan mobil masih ada di Bandung karena macet dan mobil yang dikendarai Reza dan Dimas terpaksa masuk bengkel. Sementara mobil tua yang dibawa Budi sedang dalam perjalanan menuju Garut.
Selepas adzan magrib, genk motor KITA melaksanakan shalat magrib di sebuah pom bensin terdekat sambil menunggu rombongan mobil sampai di Garut. Hingga adzan isya berkumandang rupanya mobil yang dikendarai Budi telah melewati tempat genk motor beristirahat. Setelah berkoordinasi genk motor pun melanjutkan perjalanannya menuju alun-alun Cikajang. Sampai di Alun-alun Cikajang, rombongan genk motor bertemu dengan Budi dan SaKI yang lain. Budi berserta rombongannya memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu, sementara genk motor memutuskan untuk candilight dinner di rumah makan pinggir jalan sekitaran alun-alun. Dua mobil SaKI yang lainnya pun terlihat menyusul rombongan Budi. Itu artinya, tinggal geng motor yang ada dibelakang konvoi.
Setengah jam kemudian, geng motor melanjutkan perjalanannya. Langit Garut saat itu tampak kurang bersahabat. Bintang dan bulan enggan untuk menemani perjalanan SaKI. Kabut tebal di Gunung Gelap menyambut kedatangan rombongan SaKI. Angin malam pun menyapa hingga tulang rusuk. Dingin sekali. Jaket tebal yang dipakai genk motor tak lagi menghangatkan. Tak adanya lampu penerang jalan membuat semua rombongan harus siaga satu saat melewati Gunung Gelap. Usai melewati Gunung Gelap, perjalanan rombongan SaKI harus berhadapan dengan jalan yang tidak mulus. Banyak jalan berlubang sepanjang jalan menuju Pameungpeuk. Hal ini tidak lantas membuat rombongan SaKI putar balik dan menyerah.
Tepat tujuh kilo sebelum sampai di Pameungpeuk, kini giliran genk motor yang harus mampir ke bengkel. Saat itu jam menunjukkan pukul 22.00. Ban belakang motor yang dikendarai Ardi bocor dan harus diganti. Sementara sepanjang jalan tidak ada bengkel yang masih buka. Terpaksa Ardi mengendarai motornya dalam kondisi yang menyedihkan. Kino yang semula membonceng Anisyah, berganti dengan Jaka, dan Ebi membonceng Ade dan Anisyah. Setelah setengah jam berlalu, genk motor menemukan bengkel yang masih buka (buka 24 jam). Tanpa pikir panjang, Ardi mengarahkan motornya menuju bengkel tersebut. Sambil menunggu, Ade dan Anisyah mencari tempat yang nyaman untuk memejamkan mata, membiarkan dirinya terlelap, karna tidak mungkin tidur selama perjalanan. Setengah jam berlalu. Motor Ardi sudah kembali seperti satu jam yang lalu. Perjalanan pun dilanjutkan.
Tepat pukul 00.00 geng motor akhirnya bertemu dengan tiga mobil rombongan SaKI yang sejak tadi harap-harap cemas menunggu. Bak, menanti keluarga yang pergi jauh merantau, SaKI menyambut dengan suka cita dan wajah harap-harap cemas. Satu-persatu dari genk motor ditanya kondisinya. Inilah yang menjadi ciri khas dari KITA Indonesia. Semua adalah keluarga. Tak ingin membuang waktu, setelah temu kangen perjalanan dilanjutkan. Menurut Epul (ketua pelaksana), perjalanan menuju Desa Bojong sudah dekat. Semangat untuk cepat sampai di Desa Bojong kembali menggebu.
Jalan menuju Desa Bojong ternyata tidak jauh berbeda dengan perjalanan menuju Naringgul pada Safdes Episode Naringgul. Kondisi jalan yang rusak sepanjang  jalan. Penerangan jalan yang minim menambah suasana mencekam. Beberapa SaKI pun mengeluhkan jalan yang rusak. Untuk membakar semangat dan menghibur diri, Budi bersama SaKI dalam mobilnya menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Hal ini menimbulkan gelak tawa bagi rombongan SaKI yang lainnya. Beberapa SaKI yang lain pun akhirnya ikut bernyanyi sepanjang perjalanan.
Satu jam kemudian, rombongan akhirnya tiba di rumah Pak Qomar, Kepala Desa Bojong Kidul. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan KITA Indonesia ke Bojong, rombongan pun dipersilahkan untuk istirahat di dua rumah yang sudah disiapkan sebelumnya.
Berbagi ke sekolah-sekolah
Sejak adzan shubuh berkumandang, beberapa SaKI telah bangun dan mempersiapkan makan pagi sebelum bersafari ke sekolah-sekolah yang ada di Desa Bojong. Sita, Anisyah, Ebi, Jaka, dan beberapa SaKI yang lain tengah sibuk di dapur memasak menu pagi yaitu tempe goreng dan mie goreng. Nasi yang sudah dimasak sesaat sebelum tidur pun telah siap. Dapur keluarga yang tidak luas pun penuh dengan para SaKI yang saling membantu menyiapkan sarapan. Walhasil, dalam waktu kurang dari satu jam, makan pagi telah siap untuk disantap bersama. Setelah semua berkumpul di teras rumah yang ditempati SaKI laki-laki, makan pagi ala sunda pun dimulai. Beralaskan daun pisang SaKI menyantap sarapan pagi. Walau menu makannya sederhana, suasana kebersamaan dan kekeluargaan mengubah menu sederhana menjadi istimewa. Canda gurau pun menjadi pelengkap.
Usai mengisi cadangan makanan, kini saatnya bersiap menuju sekolah-sekolah. Para SaKI pun dibagi menjadi tiga kelompok besar sebelum menuju sekolah-sekolah. Disesi pertama, ada tiga sekolah yang harus dikunjungi. Jaraknya pun saling berjauhan. Dalam satu kelompok masing-masing bertanggungjawab pada agenda kegiatan yang akan dilakukan selama di sekolah. Ada yang menemui kepala sekolah dan guru-guru, bermain dengan anak-anak, memberi motivasi kepada anak-anak agar melanjutkan sekolah setinggi-tingginya, membagikan paket alat tulis dan mendokumentasikan kegiatan.
Namun, jumlah siswa diseluruh sekolah mencapai angka 900-an. Sementara paket alat tulis yang dibawa hanya 800. Hal ini sempat menjadi perdebatan diantara founding father’s. Akhirnya, dengan terpaksa, tiga kelompok besar yang telah dibagi kembali diubah hanya menjadi dua kelompok. Satu kelompok menuju sekolah yang paling dekat dan banyak siswanya. Sisanya menuju dua sekolah yang memang jauh dari tempat para SaKI bermalam. Sehingga, jika masih ada sisa paket alat tulis, SaKI akan mendatangi sekolah yang paling jauh dari base camp. Tak ingin kehilangan momen bersama anak-anak di sekolah, para SaKI segera bergegas menuju sekolah yang telah ditentukan.
Sesampainya di sekolah, para SaKI segera meluncur dan berbaur dengan anak-anak yang tengah bermain di lapangan sekolah. Di sekolah pertama, (SD Bojong 1) pihak sekolah menyambut SaKI dengan hangat. Mereka juga memfasilitasi rombongan SaKI dengan sound system sederhana yang biasa digunakan saat upacara setiap hari seninnya. Baik guru-guru maupun anak-anak, semuanya ikut dalam suasana gembira. Gelak tawa mewarnai kebersamaan yang walau hanya sesaat. Tak lupa, para SaKI memotivasi agar tetap terus sekolah setinggi-tingginya. Wajah mereka semakin bersemangat ketika para SaKI membagikan bingkisan paket sekolah satu persatu. Para SaKI sendiri ikut dalam suasana haru.
Itu tadi cerita di sekolah yang dikunjungi oleh Sita, Puji, Epul Jaka dan yang lainnya. Nah, ini cerita di sekolah yang kunjungi Dimas, Eqie, Budi, Chandra dan yang lain yaitu SD Bojong 2.  Saat SaKI datang ke sekolah, hanya ada anak-anak kelas 1-3 yang sedang kerja bakti. Kedatangan SaKI sebelumnya tidak diketahui oleh guru-guru yang ada (mendadak). Suasana sekolah yang memang sepi karna siswa kelas 4-6 tengah bertandang ke sekolah lain untuk tanding sepak bola. Setelah mengutarakan maksud kedatangan KITA Indonesia ke sekolah, maka para SaKI dipersilahkan untuk bermain dengan para siswa yang baru selesai kerja bakti.
Di lapangan yang tidak begitu luas, siswa kelas 1-3 yang jumlahnya tidak mencapai 50 berkumpul. Budi dan Chandra memberikan beberapa permainan yang mencairkan suasana. Jika diawal kedatangan SaKI membuat mereka bingung dan terlihat tegang, maka setelah permainan yang pandu Chandra dan Budi suasana menjadi cair. Gelak tawa terdengar ketika salah satu SaKI mendapat hukuman. Seperti kakak bertemu adik yang lama tak jumpa. Semua terlihat akrab. Suasana semakin riuh ketika SaKi memberikan paket alat tulis dengan memberikan pertanyaan. Antusias siswa sangat terlihat ketika mendapat pertanyaan dari SaKI. Mereka berlomba untuk medapat kesempatan menjawab pertanyaan.
Waktu pun terus bergulir. Satu jam berlalu serasa sepuluh menit. Masih ada sisa paket alat tulis yang harus dibagikan ke SD Bojong 3. Tak ingin membuang waktu, para SaKI pun segera menuju sekolah selanjutnya. Rombongan kelompok yang bertandang ke SD Bojong 1 datang menyusul. Sehingga, semua SaKI berbondong-bondong menyerbu sekolah. Namun sayangnya, sebagian siswa sudah pulang. Hanya tinggal beberapa siswa yang masih tinggal. Siswa yang masih ada di sekolah pun segera memanggil teman-temannya untuk kembali ke sekolah, ketika melihat salah satu SaKI membawa paket alat tulis. Walhasil, dalam waktu sepuluh menit, setidaknya berkumpul lima puluh orang. Bermain-main dengan anak-anak dan memberikan motivasi pada mereka tak luput dari agenda kegiatan. Hanya sebentar memang. Namun, menyisakan kenangan dan kebahagiaan tersendiri bagi SaKI.


Tentang Kita

Suatu sore di bulan November tahun 2011, tiga orang mahasiswa duduk dalam sebuah tenda bilik di taman belakang kampus. 

Yang diperbincangkan adalah soal pencalonan menjadi ketua badan eksekutif mahasiswa di sebuah fakultas terkemuka. 

Seiring perjalanan diskusi, dialektika soal mahasiswa dan tugasnya, akhirnya didapati kesimpulan bahwa apalah kebanggaan menjadi seorang ketua BEM bila hanya memenuhi CV dan tidak ada pengaruh bagi masyarakat luas. 

Senin, 02 Maret 2015

Cara Bergabung Bersama Kita Indonesia

Kita Indonesia adalah Komunitas yang terbuka bagi siapa saja yang memiliki keinginan untuk peka terhadap sosial, yang memiliki keinginan untuk belajar serta mengamalkan secara langsung kemampuan yang dimilikinya untuk menghasilkan sebuah kemanfaatan di masyarakat.

Untuk dapat bergabung dalam Kita Indonesia cukup dengan mengikuti segala kegiatan yang diadakan. Tidak ada jadwal recruitmen khsusus yang ditentukan. 

Kita Indonesia memiliki Volunteer atau siapa saja yang hanya sebatas mengikuti kegiatan pada program-program yang ada. Kita pun memiliki Anggota, yaitu orang-orang yang selain mengikuti setiap kegiatan mereka juga yang membantu mengelola keberlangsungan Kita Indonesia.

Rabu, 21 Mei 2014

Berbagi di Safari Desa Episode Desa Bojong


Akhir Oktober lalu, Sahabat KITA kembali berbagi dalam program kegiatan catur wulannya yaitu Safari Desa. Jika pada safdes (Safari Desa) sebelumnya Sahabat KITA bertandang ke Naringgul, Cianjur Selatan, maka Safdes kedua giliran selatannya kota dodol, Desa Bojong, Pameungpeuk-Garut yang menjadi petualangan bersafari selanjutnya. Tak ingin sampai tengah malam di Desa Bojong, SaKI (Sahabat KITA) pun mempersiapkan segala keperluan beberapa hari sebelumnya. Tanggal 25 Oktober tepat pukul 15.00 waktu Cipadung, rombongan KITA Indonesia berangkat. Kali ini, antusias SaKI dalam kegiatan Safdes Edisi Desa Bojong sangat tinggi. Tiga mobil dan tiga motor pun mengantarkan 26 SaKI tak lupa dengan 800 paket alat tulis, baju layak pakai dan beberapa bantuan lainnya.
Perjalanan Menuju Desa Bojong
Perjalanan dipimpin oleh peta berjalan KITA, siapa lagi kalo bukan Ardi. Kali ini Ardi tidak mengemudikan mobil karna sudah ada Dimas, Budi dan Reza yang menjadi driver-driver tangguh sejagat raya. Bersama Ebi dan Kino, Ardi memimpin perjalanan dengan motornya. Kelihaian Ardi, Ebi dan Kino mengendai sepeda motor mengantarkan mereka sampai pertama kali di pemberhentian pertama di Garut. Sesaat sebelum adzan magrib, enam anak manusia (Ardi, Jaka, Kino, Anisyah, Ebi dan Ade) yang mencoba perjalanan ke Pameungpeuk dengan motor ini mereganggkan otot-ototnya dan mengisi cadangan makanan dalam tubuh mereka. Lama tak terlihat rombongan mobil lewat, salah satu dari anggota genk motor menghububngi SaKI yang masuk dalam daftar rombongan mobil. Bagai disambar petir tengah hari ketika mendapat kabar rombongan mobil masih ada di Bandung karena macet dan mobil yang dikendarai Reza dan Dimas terpaksa masuk bengkel. Sementara mobil tua yang dibawa Budi sedang dalam perjalanan menuju Garut.
Selepas adzan magrib, genk motor KITA melaksanakan shalat magrib di sebuah pom bensin terdekat sambil menunggu rombongan mobil sampai di Garut. Hingga adzan isya berkumandang rupanya mobil yang dikendarai Budi telah melewati tempat genk motor beristirahat. Setelah berkoordinasi genk motor pun melanjutkan perjalanannya menuju alun-alun Cikajang. Sampai di Alun-alun Cikajang, rombongan genk motor bertemu dengan Budi dan SaKI yang lain. Budi berserta rombongannya memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu, sementara genk motor memutuskan untuk candilight dinner di rumah makan pinggir jalan sekitaran alun-alun. Dua mobil SaKI yang lainnya pun terlihat menyusul rombongan Budi. Itu artinya, tinggal geng motor yang ada dibelakang konvoi.
Setengah jam kemudian, geng motor melanjutkan perjalanannya. Langit Garut saat itu tampak kurang bersahabat. Bintang dan bulan enggan untuk menemani perjalanan SaKI. Kabut tebal di Gunung Gelap menyambut kedatangan rombongan SaKI. Angin malam pun menyapa hingga tulang rusuk. Dingin sekali. Jaket tebal yang dipakai genk motor tak lagi menghangatkan. Tak adanya lampu penerang jalan membuat semua rombongan harus siaga satu saat melewati Gunung Gelap. Usai melewati Gunung Gelap, perjalanan rombongan SaKI harus berhadapan dengan jalan yang tidak mulus. Banyak jalan berlubang sepanjang jalan menuju Pameungpeuk. Hal ini tidak lantas membuat rombongan SaKI putar balik dan menyerah.
Tepat tujuh kilo sebelum sampai di Pameungpeuk, kini giliran genk motor yang harus mampir ke bengkel. Saat itu jam menunjukkan pukul 22.00. Ban belakang motor yang dikendarai Ardi bocor dan harus diganti. Sementara sepanjang jalan tidak ada bengkel yang masih buka. Terpaksa Ardi mengendarai motornya dalam kondisi yang menyedihkan. Kino yang semula membonceng Anisyah, berganti dengan Jaka, dan Ebi membonceng Ade dan Anisyah. Setelah setengah jam berlalu, genk motor menemukan bengkel yang masih buka (buka 24 jam). Tanpa pikir panjang, Ardi mengarahkan motornya menuju bengkel tersebut. Sambil menunggu, Ade dan Anisyah mencari tempat yang nyaman untuk memejamkan mata, membiarkan dirinya terlelap, karna tidak mungkin tidur selama perjalanan. Setengah jam berlalu. Motor Ardi sudah kembali seperti satu jam yang lalu. Perjalanan pun dilanjutkan.
Tepat pukul 00.00 geng motor akhirnya bertemu dengan tiga mobil rombongan SaKI yang sejak tadi harap-harap cemas menunggu. Bak, menanti keluarga yang pergi jauh merantau, SaKI menyambut dengan suka cita dan wajah harap-harap cemas. Satu-persatu dari genk motor ditanya kondisinya. Inilah yang menjadi ciri khas dari KITA Indonesia. Semua adalah keluarga. Tak ingin membuang waktu, setelah temu kangen perjalanan dilanjutkan. Menurut Epul (ketua pelaksana), perjalanan menuju Desa Bojong sudah dekat. Semangat untuk cepat sampai di Desa Bojong kembali menggebu.
Jalan menuju Desa Bojong ternyata tidak jauh berbeda dengan perjalanan menuju Naringgul pada Safdes Episode Naringgul. Kondisi jalan yang rusak sepanjang  jalan. Penerangan jalan yang minim menambah suasana mencekam. Beberapa SaKI pun mengeluhkan jalan yang rusak. Untuk membakar semangat dan menghibur diri, Budi bersama SaKI dalam mobilnya menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Hal ini menimbulkan gelak tawa bagi rombongan SaKI yang lainnya. Beberapa SaKI yang lain pun akhirnya ikut bernyanyi sepanjang perjalanan.
Satu jam kemudian, rombongan akhirnya tiba di rumah Pak Qomar, Kepala Desa Bojong Kidul. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan KITA Indonesia ke Bojong, rombongan pun dipersilahkan untuk istirahat di dua rumah yang sudah disiapkan sebelumnya.
Berbagi ke sekolah-sekolah
Sejak adzan shubuh berkumandang, beberapa SaKI telah bangun dan mempersiapkan makan pagi sebelum bersafari ke sekolah-sekolah yang ada di Desa Bojong. Sita, Anisyah, Ebi, Jaka, dan beberapa SaKI yang lain tengah sibuk di dapur memasak menu pagi yaitu tempe goreng dan mie goreng. Nasi yang sudah dimasak sesaat sebelum tidur pun telah siap. Dapur keluarga yang tidak luas pun penuh dengan para SaKI yang saling membantu menyiapkan sarapan. Walhasil, dalam waktu kurang dari satu jam, makan pagi telah siap untuk disantap bersama. Setelah semua berkumpul di teras rumah yang ditempati SaKI laki-laki, makan pagi ala sunda pun dimulai. Beralaskan daun pisang SaKI menyantap sarapan pagi. Walau menu makannya sederhana, suasana kebersamaan dan kekeluargaan mengubah menu sederhana menjadi istimewa. Canda gurau pun menjadi pelengkap.
Usai mengisi cadangan makanan, kini saatnya bersiap menuju sekolah-sekolah. Para SaKI pun dibagi menjadi tiga kelompok besar sebelum menuju sekolah-sekolah. Disesi pertama, ada tiga sekolah yang harus dikunjungi. Jaraknya pun saling berjauhan. Dalam satu kelompok masing-masing bertanggungjawab pada agenda kegiatan yang akan dilakukan selama di sekolah. Ada yang menemui kepala sekolah dan guru-guru, bermain dengan anak-anak, memberi motivasi kepada anak-anak agar melanjutkan sekolah setinggi-tingginya, membagikan paket alat tulis dan mendokumentasikan kegiatan.
Namun, jumlah siswa diseluruh sekolah mencapai angka 900-an. Sementara paket alat tulis yang dibawa hanya 800. Hal ini sempat menjadi perdebatan diantara founding father’s. Akhirnya, dengan terpaksa, tiga kelompok besar yang telah dibagi kembali diubah hanya menjadi dua kelompok. Satu kelompok menuju sekolah yang paling dekat dan banyak siswanya. Sisanya menuju dua sekolah yang memang jauh dari tempat para SaKI bermalam. Sehingga, jika masih ada sisa paket alat tulis, SaKI akan mendatangi sekolah yang paling jauh dari base camp. Tak ingin kehilangan momen bersama anak-anak di sekolah, para SaKI segera bergegas menuju sekolah yang telah ditentukan.
Sesampainya di sekolah, para SaKI segera meluncur dan berbaur dengan anak-anak yang tengah bermain di lapangan sekolah. Di sekolah pertama, (SD Bojong 1) pihak sekolah menyambut SaKI dengan hangat. Mereka juga memfasilitasi rombongan SaKI dengan sound system sederhana yang biasa digunakan saat upacara setiap hari seninnya. Baik guru-guru maupun anak-anak, semuanya ikut dalam suasana gembira. Gelak tawa mewarnai kebersamaan yang walau hanya sesaat. Tak lupa, para SaKI memotivasi agar tetap terus sekolah setinggi-tingginya. Wajah mereka semakin bersemangat ketika para SaKI membagikan bingkisan paket sekolah satu persatu. Para SaKI sendiri ikut dalam suasana haru.
Itu tadi cerita di sekolah yang dikunjungi oleh Sita, Puji, Epul Jaka dan yang lainnya. Nah, ini cerita di sekolah yang kunjungi Dimas, Eqie, Budi, Chandra dan yang lain yaitu SD Bojong 2.  Saat SaKI datang ke sekolah, hanya ada anak-anak kelas 1-3 yang sedang kerja bakti. Kedatangan SaKI sebelumnya tidak diketahui oleh guru-guru yang ada (mendadak). Suasana sekolah yang memang sepi karna siswa kelas 4-6 tengah bertandang ke sekolah lain untuk tanding sepak bola. Setelah mengutarakan maksud kedatangan KITA Indonesia ke sekolah, maka para SaKI dipersilahkan untuk bermain dengan para siswa yang baru selesai kerja bakti.
Di lapangan yang tidak begitu luas, siswa kelas 1-3 yang jumlahnya tidak mencapai 50 berkumpul. Budi dan Chandra memberikan beberapa permainan yang mencairkan suasana. Jika diawal kedatangan SaKI membuat mereka bingung dan terlihat tegang, maka setelah permainan yang pandu Chandra dan Budi suasana menjadi cair. Gelak tawa terdengar ketika salah satu SaKI mendapat hukuman. Seperti kakak bertemu adik yang lama tak jumpa. Semua terlihat akrab. Suasana semakin riuh ketika SaKi memberikan paket alat tulis dengan memberikan pertanyaan. Antusias siswa sangat terlihat ketika mendapat pertanyaan dari SaKI. Mereka berlomba untuk medapat kesempatan menjawab pertanyaan.
Waktu pun terus bergulir. Satu jam berlalu serasa sepuluh menit. Masih ada sisa paket alat tulis yang harus dibagikan ke SD Bojong 3. Tak ingin membuang waktu, para SaKI pun segera menuju sekolah selanjutnya. Rombongan kelompok yang bertandang ke SD Bojong 1 datang menyusul. Sehingga, semua SaKI berbondong-bondong menyerbu sekolah. Namun sayangnya, sebagian siswa sudah pulang. Hanya tinggal beberapa siswa yang masih tinggal. Siswa yang masih ada di sekolah pun segera memanggil teman-temannya untuk kembali ke sekolah, ketika melihat salah satu SaKI membawa paket alat tulis. Walhasil, dalam waktu sepuluh menit, setidaknya berkumpul lima puluh orang. Bermain-main dengan anak-anak dan memberikan motivasi pada mereka tak luput dari agenda kegiatan. Hanya sebentar memang. Namun, menyisakan kenangan dan kebahagiaan tersendiri bagi SaKI.


Berbagi di Safari Desa Episode Desa Bojong

Akhir Oktober lalu, Sahabat KITA kembali berbagi dalam program kegiatan catur wulannya yaitu Safari Desa. Jika pada safdes (Safari Desa) sebelumnya Sahabat KITA bertandang ke Naringgul, Cianjur Selatan, maka Safdes kedua giliran selatannya kota dodol, Desa Bojong, Pameungpeuk-Garut yang menjadi petualangan bersafari selanjutnya. Tak ingin sampai tengah malam di Desa Bojong, SaKI (Sahabat KITA) pun mempersiapkan segala keperluan beberapa hari sebelumnya. Tanggal 25 Oktober tepat pukul 15.00 waktu Cipadung, rombongan KITA Indonesia berangkat. Kali ini, antusias SaKI dalam kegiatan Safdes Edisi Desa Bojong sangat tinggi. Tiga mobil dan tiga motor pun mengantarkan 26 SaKI tak lupa dengan 800 paket alat tulis, baju layak pakai dan beberapa bantuan lainnya.

Perjalanan Menuju Desa Bojong
Perjalanan dipimpin oleh peta berjalan KITA, siapa lagi kalo bukan Ardi. Kali ini Ardi tidak mengemudikan mobil karna sudah ada Dimas, Budi dan Reza yang menjadi driver-driver tangguh sejagat raya. Bersama Ebi dan Kino, Ardi memimpin perjalanan dengan motornya. Kelihaian Ardi, Ebi dan Kino mengendai sepeda motor mengantarkan mereka sampai pertama kali di pemberhentian pertama di Garut. Sesaat sebelum adzan magrib, enam anak manusia (Ardi, Jaka, Kino, Anisyah, Ebi dan Ade) yang mencoba perjalanan ke Pameungpeuk dengan motor ini mereganggkan otot-ototnya dan mengisi cadangan makanan dalam tubuh mereka. Lama tak terlihat rombongan mobil lewat, salah satu dari anggota genk motor menghububngi SaKI yang masuk dalam daftar rombongan mobil. Bagai disambar petir tengah hari ketika mendapat kabar rombongan mobil masih ada di Bandung karena macet dan mobil yang dikendarai Reza dan Dimas terpaksa masuk bengkel. Sementara mobil tua yang dibawa Budi sedang dalam perjalanan menuju Garut.
Selepas adzan magrib, genk motor KITA melaksanakan shalat magrib di sebuah pom bensin terdekat sambil menunggu rombongan mobil sampai di Garut. Hingga adzan isya berkumandang rupanya mobil yang dikendarai Budi telah melewati tempat genk motor beristirahat. Setelah berkoordinasi genk motor pun melanjutkan perjalanannya menuju alun-alun Cikajang. Sampai di Alun-alun Cikajang, rombongan genk motor bertemu dengan Budi dan SaKI yang lain. Budi berserta rombongannya memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu, sementara genk motor memutuskan untuk candilight dinner di rumah makan pinggir jalan sekitaran alun-alun. Dua mobil SaKI yang lainnya pun terlihat menyusul rombongan Budi. Itu artinya, tinggal geng motor yang ada dibelakang konvoi.
Setengah jam kemudian, geng motor melanjutkan perjalanannya. Langit Garut saat itu tampak kurang bersahabat. Bintang dan bulan enggan untuk menemani perjalanan SaKI. Kabut tebal di Gunung Gelap menyambut kedatangan rombongan SaKI. Angin malam pun menyapa hingga tulang rusuk. Dingin sekali. Jaket tebal yang dipakai genk motor tak lagi menghangatkan. Tak adanya lampu penerang jalan membuat semua rombongan harus siaga satu saat melewati Gunung Gelap. Usai melewati Gunung Gelap, perjalanan rombongan SaKI harus berhadapan dengan jalan yang tidak mulus. Banyak jalan berlubang sepanjang jalan menuju Pameungpeuk. Hal ini tidak lantas membuat rombongan SaKI putar balik dan menyerah.
Tepat tujuh kilo sebelum sampai di Pameungpeuk, kini giliran genk motor yang harus mampir ke bengkel. Saat itu jam menunjukkan pukul 22.00. Ban belakang motor yang dikendarai Ardi bocor dan harus diganti. Sementara sepanjang jalan tidak ada bengkel yang masih buka. Terpaksa Ardi mengendarai motornya dalam kondisi yang menyedihkan. Kino yang semula membonceng Anisyah, berganti dengan Jaka, dan Ebi membonceng Ade dan Anisyah. Setelah setengah jam berlalu, genk motor menemukan bengkel yang masih buka (buka 24 jam). Tanpa pikir panjang, Ardi mengarahkan motornya menuju bengkel tersebut. Sambil menunggu, Ade dan Anisyah mencari tempat yang nyaman untuk memejamkan mata, membiarkan dirinya terlelap, karna tidak mungkin tidur selama perjalanan. Setengah jam berlalu. Motor Ardi sudah kembali seperti satu jam yang lalu. Perjalanan pun dilanjutkan.
Tepat pukul 00.00 geng motor akhirnya bertemu dengan tiga mobil rombongan SaKI yang sejak tadi harap-harap cemas menunggu. Bak, menanti keluarga yang pergi jauh merantau, SaKI menyambut dengan suka cita dan wajah harap-harap cemas. Satu-persatu dari genk motor ditanya kondisinya. Inilah yang menjadi ciri khas dari KITA Indonesia. Semua adalah keluarga. Tak ingin membuang waktu, setelah temu kangen perjalanan dilanjutkan. Menurut Epul (ketua pelaksana), perjalanan menuju Desa Bojong sudah dekat. Semangat untuk cepat sampai di Desa Bojong kembali menggebu.
Jalan menuju Desa Bojong ternyata tidak jauh berbeda dengan perjalanan menuju Naringgul pada Safdes Episode Naringgul. Kondisi jalan yang rusak sepanjang  jalan. Penerangan jalan yang minim menambah suasana mencekam. Beberapa SaKI pun mengeluhkan jalan yang rusak. Untuk membakar semangat dan menghibur diri, Budi bersama SaKI dalam mobilnya menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Hal ini menimbulkan gelak tawa bagi rombongan SaKI yang lainnya. Beberapa SaKI yang lain pun akhirnya ikut bernyanyi sepanjang perjalanan.
Satu jam kemudian, rombongan akhirnya tiba di rumah Pak Qomar, Kepala Desa Bojong Kidul. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan KITA Indonesia ke Bojong, rombongan pun dipersilahkan untuk istirahat di dua rumah yang sudah disiapkan sebelumnya.
Berbagi ke sekolah-sekolah
Sejak adzan shubuh berkumandang, beberapa SaKI telah bangun dan mempersiapkan makan pagi sebelum bersafari ke sekolah-sekolah yang ada di Desa Bojong. Sita, Anisyah, Ebi, Jaka, dan beberapa SaKI yang lain tengah sibuk di dapur memasak menu pagi yaitu tempe goreng dan mie goreng. Nasi yang sudah dimasak sesaat sebelum tidur pun telah siap. Dapur keluarga yang tidak luas pun penuh dengan para SaKI yang saling membantu menyiapkan sarapan. Walhasil, dalam waktu kurang dari satu jam, makan pagi telah siap untuk disantap bersama. Setelah semua berkumpul di teras rumah yang ditempati SaKI laki-laki, makan pagi ala sunda pun dimulai. Beralaskan daun pisang SaKI menyantap sarapan pagi. Walau menu makannya sederhana, suasana kebersamaan dan kekeluargaan mengubah menu sederhana menjadi istimewa. Canda gurau pun menjadi pelengkap.
Usai mengisi cadangan makanan, kini saatnya bersiap menuju sekolah-sekolah. Para SaKI pun dibagi menjadi tiga kelompok besar sebelum menuju sekolah-sekolah. Disesi pertama, ada tiga sekolah yang harus dikunjungi. Jaraknya pun saling berjauhan. Dalam satu kelompok masing-masing bertanggungjawab pada agenda kegiatan yang akan dilakukan selama di sekolah. Ada yang menemui kepala sekolah dan guru-guru, bermain dengan anak-anak, memberi motivasi kepada anak-anak agar melanjutkan sekolah setinggi-tingginya, membagikan paket alat tulis dan mendokumentasikan kegiatan.
Namun, jumlah siswa diseluruh sekolah mencapai angka 900-an. Sementara paket alat tulis yang dibawa hanya 800. Hal ini sempat menjadi perdebatan diantara founding father’s. Akhirnya, dengan terpaksa, tiga kelompok besar yang telah dibagi kembali diubah hanya menjadi dua kelompok. Satu kelompok menuju sekolah yang paling dekat dan banyak siswanya. Sisanya menuju dua sekolah yang memang jauh dari tempat para SaKI bermalam. Sehingga, jika masih ada sisa paket alat tulis, SaKI akan mendatangi sekolah yang paling jauh dari base camp. Tak ingin kehilangan momen bersama anak-anak di sekolah, para SaKI segera bergegas menuju sekolah yang telah ditentukan.
Sesampainya di sekolah, para SaKI segera meluncur dan berbaur dengan anak-anak yang tengah bermain di lapangan sekolah. Di sekolah pertama, (SD Bojong 1) pihak sekolah menyambut SaKI dengan hangat. Mereka juga memfasilitasi rombongan SaKI dengan sound system sederhana yang biasa digunakan saat upacara setiap hari seninnya. Baik guru-guru maupun anak-anak, semuanya ikut dalam suasana gembira. Gelak tawa mewarnai kebersamaan yang walau hanya sesaat. Tak lupa, para SaKI memotivasi agar tetap terus sekolah setinggi-tingginya. Wajah mereka semakin bersemangat ketika para SaKI membagikan bingkisan paket sekolah satu persatu. Para SaKI sendiri ikut dalam suasana haru.
Itu tadi cerita di sekolah yang dikunjungi oleh Sita, Puji, Epul Jaka dan yang lainnya. Nah, ini cerita di sekolah yang kunjungi Dimas, Eqie, Budi, Chandra dan yang lain yaitu SD Bojong 2.  Saat SaKI datang ke sekolah, hanya ada anak-anak kelas 1-3 yang sedang kerja bakti. Kedatangan SaKI sebelumnya tidak diketahui oleh guru-guru yang ada (mendadak). Suasana sekolah yang memang sepi karna siswa kelas 4-6 tengah bertandang ke sekolah lain untuk tanding sepak bola. Setelah mengutarakan maksud kedatangan KITA Indonesia ke sekolah, maka para SaKI dipersilahkan untuk bermain dengan para siswa yang baru selesai kerja bakti.
Di lapangan yang tidak begitu luas, siswa kelas 1-3 yang jumlahnya tidak mencapai 50 berkumpul. Budi dan Chandra memberikan beberapa permainan yang mencairkan suasana. Jika diawal kedatangan SaKI membuat mereka bingung dan terlihat tegang, maka setelah permainan yang pandu Chandra dan Budi suasana menjadi cair. Gelak tawa terdengar ketika salah satu SaKI mendapat hukuman. Seperti kakak bertemu adik yang lama tak jumpa. Semua terlihat akrab. Suasana semakin riuh ketika SaKi memberikan paket alat tulis dengan memberikan pertanyaan. Antusias siswa sangat terlihat ketika mendapat pertanyaan dari SaKI. Mereka berlomba untuk medapat kesempatan menjawab pertanyaan.
Waktu pun terus bergulir. Satu jam berlalu serasa sepuluh menit. Masih ada sisa paket alat tulis yang harus dibagikan ke SD Bojong 3. Tak ingin membuang waktu, para SaKI pun segera menuju sekolah selanjutnya. Rombongan kelompok yang bertandang ke SD Bojong 1 datang menyusul. Sehingga, semua SaKI berbondong-bondong menyerbu sekolah. Namun sayangnya, sebagian siswa sudah pulang. Hanya tinggal beberapa siswa yang masih tinggal. Siswa yang masih ada di sekolah pun segera memanggil teman-temannya untuk kembali ke sekolah, ketika melihat salah satu SaKI membawa paket alat tulis. Walhasil, dalam waktu sepuluh menit, setidaknya berkumpul lima puluh orang. Bermain-main dengan anak-anak dan memberikan motivasi pada mereka tak luput dari agenda kegiatan. Hanya sebentar memang. Namun, menyisakan kenangan dan kebahagiaan tersendiri bagi SaKI.


Safari Desa 3

Ini dia kegiatan Safari Desa 3 di Desa Cilangari, Gununghalu Kab. Bandung Barat..

Seruuuuuu.....





Mengenai Saya

Foto saya
Gerakan pemuda bangsa yang peduli dan solutif untuk menciptakan perubahan positif terhadap isu-isu sosial